Uncategorized

Longgarkan Lockdown Bisa Picu Gelombang Kedua

Longgarkan Lockdown Bisa Picu Gelombang Sejumlah pandemi menyertai sejarah peradaban manusia, meski kita mungkin tak pernah menyangka, wabah dengan skala sebesar COVID1-9 terjadi pada era modern. Bermula di Wuhan, China pada akhir 2019, hingga saat ini belum diketahui kapan ia akan tamat. 

Skenario terburuk, COVID-19 yang dipicu virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) tak hanya menyerang sekali. Seperti yang terjadi seabad lalu, tepatnya pada 1918. Di tengah kecamuk Perang Dunia I, pandemi flu Spanyol melanda, menewaskan 50 juta penduduk Bumi. Dilaporkan, wabah menyerang dalam tiga gelombang

Sementara, COVID-19 telah menginfeksi setidaknya 3,6 juta manusia dan menewaskan lebih dari 252 ribu jiwa. Itu baru satu gelombang. Kekhawatiran soal potensi terjadinya terjangan kedua kian mengemuka belakangan ini, seiring keputusan sejumlah negara untuk melonggarkan bahkan mencabut aturan  atau karantina wilayah. 

Para ahli dan pengamat menganjurkan agar kita menengok ke belakang, kala flu Spanyol terjadi 102 tahun lalu. Juga ke pandemi-pandemi flu berikutnya, meskipun lebih ringan, termasuk yang terjadi pada 1957 dan 1968. Benang merahnya, wabah terjadi lebih dari satu gelombang. 

Begitu pula dengan pandemi influenza A H1N1 yang terjadi pada 2009. Penyakit ditemukan berjangkit di Amerika Serikat pada April, di tengah musim semi lalu menyebar ke negara-negara belahan bumi utara (Northern Hemisphere) yang beriklim sedang di musim gugur. Itu adalah gelombang kedua.  

Meski gelombang kedua dan puncak sekunder dalam periode pandemi secara teknis berbeda, namun pada dasarnya kekhawatirannya sama, penyakit itu akan bangkit kembali.

Justin Lessler, seorang profesor epidemiologi di Universitas Johns Hopkins, menulis dengan tegas di Washington Post pada Maret 2020. “Epidemi seperti api. Ketika bahan bakar berlimpah, mereka mengamuk tak terkendali, dan ketika (bahan bakar) langka, mereka membara perlahan,” ungkapnya.

Ia menyebut intensitas ini sebagai ‘kekuatan infeksi’, dan bahan bakar yang menggerakkannya adalah kerentanan populasi terhadap patogen. Karena gelombang epidemi yang berulang mengurangi kerentanan, baik melalui kekebalan lengkap atau sebagian, mereka juga mengurangi kekuatan infeksi, menurunkan risiko penyakit, bahkan di antara mereka yang tidak memiliki kekebalan.

Masalahnya, tidak diketahui berapa banyak bahan bakar yang masih tersedia untuk virus pemicu COVID-19.

Longgarkan Lockdown Bisa Picu Gelombang Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Institute, Amin Soebandrio menilai, gelombang kedua COVID-19 dapat dicegah bila masyarakat di negara yang dicabut atau dilonggarkannya tetap menjaga protokol layaknya saat karantina berlaku. Seperti aturan memakai masker dan cuci tangan harus tetap dipatuhi.

“Bahkan beberapa rekomendasi,  walaupun nanti pandemi sudah dikatakan berakhir atau untuk yang merasa sudah bisa mengendalikan, itu tetap harus diberlakukan. Jadi menggunakan masker, physical distancing, cuci tangan itu semua harus dilakukan walaupun pandemi sudah berakhir karena kita mengantisipasi virusnya itu masih circulating hanya saja tidak ada yang bergejala lagi” katanya kepada , Selasa (5/5/2020).

Protokol itu, sambung dia, perlu dilakukan terus paling tidak selama satu tahun. Jadi perilaku masyarakat juga perlu berubah. “Misalkan di Jepang itu sudah kesadaran sendiri, kalau agak flu sedikit atau batuk sedikit pasti pakai masker. Kemudian juga hygiene per orangan juga dipelihara, kebersihan lingkungan juga demikian. Jadi memang harus menjadi habit dan gaya hidup dan perilaku sehari-hari.”

Menurutnya, gelombang kedua akan lebih besar dari yang pertama sangat tergantung dari virusnya. “Artinya apakah dia bermutasi, bermutasi maksudnya si virus itu ingin beradaptasi dengan lingkungan,” ujar Amin.

“Mutasi virus terjadi secara random, bisa bagus untuk dia, bisa juga tidak bagus untuk dia. Bagus untuk virusnya, tidak bagus untuk manusia bisa saja. Dan itu secara random misalkan sekelompok virus yang kebetulan mutasinya menyebabkan dia bisa lebih cepat menyebar atau lebih berat, itu bisa. Kemudian bisa terjadi second wave,” imbuh Amin.

Sementara itu, Ahli Kesehatan Masyarakat, Hasbullah Thabrany mengatakan, publik perlu mewaspadai ancaman gelombang kedua penyebaran pandemi Corona COVID-19. Jika menilik pada wabah flu Spanyol yang terjadi seabad lalu, gelombang kedua muncul setelah serangan pertama.

“Virus begini memang pengalaman 100 tahun yang lalu juga menunjukkan ada 3 gelombang ya,” kata dia.

Menurutnya, daya tahan tubuh benar-benar menjadi kekuatan yang bisa dipakai untuk melawan Virus Corona COVID-19. Mengingat hingga saat ini belum ada vaksin yang ditemukan.

Selain itu, masyarakat juga harus mampu membuat semacam evaluasi terhadap diri masing-masing. Hal ini penting agar untuk menghindar dari kemungkinan tertular.

“Buat yang muda insyaallah masih lebih aman, buat yang tua jangan keluar rumah kecuali dalam posisi sendirian jaga jarak yang jauh,” kata dia.

Episentrum Gelombang Kedua COVID-19

Longgarkan Lockdown Bisa Picu Gelombang Selama vaksin Virus Corona COVID-19 belum ditemukan, dikhawatirkan penularannya kian meluas. Episentrum atau pusat penyebaran kemungkinan besar akan berpindah dan semakin banyak, termasuk di Indonesia.

Pernyataan ini dikeluarkan oleh ahli kesehatan publik yang memperingatkan masyarakat, jika terlalu cepat kembali ke kehidupan normal, dunia justru akan lebih cepat mengalami gelombang kedua Virus Corona COVID-19.

Direktur Jenderal Institut Vaksin Internasional di Korea, Jerome Kim mengatakan bahwa di tengah pelonggaran pembatasan aturan menjaga jarak, yang telah dilakukan beberapa negara dalam menangani Virus Corona COVID-19, penularannya masih jauh dari garis akhir dan tidak dapat diprediksi.

“Wabah Virus Corona COVID-19 belum bisa dikatakan berakhir sebelum betul-betul selesai. Ibarat angin yang selalu bergerak dan tanpa kita ketahui tiba-tiba menimbulkan api di belakang rumah kita,” katanya kepada ABC ketika dihubungi di Seoul.

“Karena penyebaran bisa dengan mudah terjadi. Misalnya melalui satu atau dua orang yang pergi jalan-jalan, kemudian terpapar Virus Corona COVID-19 dan mereka membawa virus itu pulang ke rumahnya masing-masing.”

Di negara-negara Asia, yang memiliki kepadatan penduduk tinggi, sulit untuk menerapkan aturan jaga jarak antara warganya. Sebagai ahli yang mengamati situasi wabah Virus Corona COVID-19 di Asia dan Afrika, Profesor Rob Moodie dari Sekolah Kesehatan Populasi di University of Melbourne mengatakan, warga harus berhati-hati ketika melakukan physical-distancing atau menjaga jarak antar individu.

“Kita akan segera menuju situasi… di mana kita harus menimbang apakah orang yang sudah sembuh sebetulnya lebih berbahaya daripada penyakit itu sendiri. Inilah dilema yang sedang kita hadapi sekarang,” kata Profesor Rob.

Ahli kesehatan publik juga khawatir akan terjadi penularan yang tidak terkendali di tempat-tempat lain di Asia, sama halnya dengan di Afrika, yang artinya episentrum Virus Corona COVID-19 akan terus berpindah.

“Kemungkinan terjadinya besar,” kata James Best, profesor di Sekolah Obat Lee Kong Chian Singapura.

“Negara di Asia seperti India dan negara-negara Afrika bisa terjadi outbreak tidak terkendali seperti yang sudah terjadi di China, Italia, Spanyol dan Amerika Serikat,” katanya.

Dokter Jerome Kim mengatakan, selama vaksin atau tindakan preventif yang tepat belum ditemukan, kehidupan tidak akan kembali ke normal. “Sebaiknya untuk sekarang kita jangan berpikir bahwa kita bisa lolos dari kemungkinan pengulangan wabah COVID-19.”

Beberapa ahli mengatakan negara berpopulasi padat, termasuk India, Indonesia dan Filipina berada dalam posisi “rugi” karena sulit menerapkan aturan soal menjaga jarak antar warga dalam skala besar.

Senin lalu, 6 April 2020, Tim SimcovID yang terdiri dari sejumlah universitas dalam dan luar negeri telah meluncurkan pemodelan terbaru yang mensimulasikan COVID-19 di Indonesia.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan mitigasi dengan membatasi aktivitas warga dengan menutup sejumlah fasilitas publik hanya memperbolehkan mobilitas warga sekitar 50 persen penduduk.

Sementara jika langkah yang lebih ketat dengan cara supresi, seperti pemberlakukan denda, maka pergerakan warga hanya menjadi 10 persen.

Dengan strategi supresi, perkiraan angka kematian di Indonesia bisa ditekan sampai 120.000 jiwa, namun jika langkah ini tidak diambil maka angka kematian bisa mencapai 1,2 juta jiwa.

Sementara sebagai pengamat Virus Corona COVID-19 di Asia dan Afrika, Profesor Rob melihat peningkatan kasus yang baru-baru terjadi menunjukkan seluruh negara di seluruh dunia harus mengambil tindakan agresif untuk menghindari penyebaran dan memadamkan “titik api”.

Ia menambahkan kesuksesan setiap negara dalam melawan Virus Corona COVID-19 bergantung sepenuhnya pada kekayaan negara, pemerintah dan sistem kesehatan.

“Saya rasa kita akan menghadapi era COVID-19 jauh lebih lama dari apa yang kita kira,” kata dia.

“Kita akan mengalami gelombang kedua, ketiga atau keempat — itu yang terjadi dengan Flu Spanyol.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *