Uncategorized

Sebuah Planet Bisa Mati? Ini Ulasan Ilmiahnya

Sebuah Planet Bisa Mati? Ini Ulasan Ilmiahnya. Sebuah bintang di alam semesta dapat mengalami fase saat mereka akan kehilangan energinya. Bintang yang telah kehilangan sumber energi tersebut dinamakan bintang mati. Biasanya, bintang mati dapat menjadi sebuah black hole atau lubang hitam yang saat ini masih misterius.

Jika bintang dapat mati, bagaimana dengan planet? Apakah planet, termasuk Bumi, dapat mengalami fase kematian? Jika ya, bagaimana prosesnya? Kalau kamu penasaran, dibaca sampai selesai, yuk!

1. Bintang berbeda dengan planet

Apakah Sebuah Planet Bisa Mati? Ini 5 Ulasan Ilmiahnya

Seperti dicatat dalam laman NASA, planet dan bintang memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Planet dan bintang sama-sama tampak bercahaya, namun planet tidak dapat menghasilkan cahayanya sendiri.

Cahaya yang terpancar pada planet merupakan pantulan dari cahaya bintang, misalnya Bumi yang tampak bercahaya karena terkena sinar Matahari. Sedangkan, bintang dapat menghasilkan cahayanya sendiri. Itu sebabnya jika dilihat dari Bumi, cahaya bintang selalu berkelip-kelip.

Kebanyakan bintang yang ada di alam semesta memiliki ukuran yang sangat masif sehingga memiliki kekuatan gravitasi yang sangat besar pula. Bintang terbesar di tata surya kita tentunya adalah Matahari.

Oh ya, ada satu karakter unik yang dimiliki oleh bintang, yakni perbandingan terbalik antara massa dengan usia hidupnya. Semakin besar massa sebuah bintang, usia hidup dari bintang tersebut juga akan semakin singkat. Sebaliknya, semakin kecil massanya, usia hidupnya akan semakin panjang.

2. Meskipun memiliki karakter berbeda dengan bintang, planet tetap dapat mati

Apakah Sebuah Planet Bisa Mati? Ini 5 Ulasan Ilmiahnya

Pada dasarnya, objek yang memiliki massa dan dipengaruhi oleh kekuatan fundamental alam, objek tersebut tidak dapat bertahan abadi. Meskipun sebuah objek luar angkasa tersebut telah mati, mereka masih tetap akan menghasilkan gaya gravitasi.

Pada dasarnya, partikel yang memiliki massa pasti juga memiliki gaya tarik menarik atau gravitasinya masing-masing. Begitu juga dengan planet dan bintang yang telah mati sekalipun.

Laman New Scientist mencatat bahwa para ilmuwan telah mendeteksi adanya planet mati yang masih mengitari sebuah bintang yang juga telah mati. Beberapa bagian objek luar angkasa tersebut telah menjadi kepingan dan bongkahan batu yang padat dan memiliki gravitasi yang cukup besar.

Penemuan tersebut membuktikan bahwa baik itu bintang maupun planet dapat mengalami fase kematian. Namun, pada bintang yang ukurannya masif, kematian mereka dapat menghasilkan sebuah objek dengan gravitasi masif, yakni lubang hitam atau black hole.

3. Bagaimana dengan Bumi? Apakah Bumi sudah termasuk planet tua?

Apakah Sebuah Planet Bisa Mati? Ini 5 Ulasan Ilmiahnya

Biasanya, planet yang bergantung pada sebuah bintang besar akan memiliki usia hidup yang juga akan bergantung pada bintang tersebut. Planet Bumi, misalnya, planet kita ini sangat bergantung hidup dari Matahari.

Nah, jika Matahari mati, planet-planet yang dekat dengan Matahari juga akan mati. Pada dasarnya, tidak ada yang tahu kapan planet Bumi akan mati. Namun, laman Space mencatat bahwa Matahari masih memiliki energi dan bahan bakar yang cukup sampai 5 miliar tahun ke depan.

Dengan prediksi tersebut, Bumi juga akan mati pada 5 miliar tahun pada masa yang akan datang. Bukan hanya Bumi, planet-planet yang ada di tata surya kita juga akan perlahan akan mati karena semuanya bergantung pada Matahari.

Usia Bumi sendiri sebetulnya masih relatif muda, yakni sekitar 4,5 miliar tahun. Tentu usia tersebut masih tergolong muda jika dibandingkan dengan planet-planet lainnya yang berusia di atas 8 miliar tahun. Bahkan, ada bintang dan planet yang usianya dekat dengan usia alam semesta, yakni pada kisaran 13 miliar tahun.

4. Ada sebuah kelahiran planet baru yang hanya berjarak 355 tahun cahaya dari Bumi

Apakah Sebuah Planet Bisa Mati? Ini 5 Ulasan Ilmiahnya

Dicatat dalam laman IFL Science bahwa para ilmuwan percaya jika mereka tengah menyaksikan pembentukan sebuah planet baru yang berjarak hanya 355 tahun cahaya dari Bumi.

Fenomena ini adalah fenomena yang pertama kali ditemukan dan diamati oleh astronom melalui teleskop luar angkasa. Pertama kali diamati pada 2013 lalu, planet yang disebut HD 100546 tersebut terbentuk dari gumpalan gas yang mirip dengan gas pembentuk Planet Jupiter di masa purba.

Diperkirakan, ukuran planet baru tersebut akan beberapa kali lebih besar dibandingkan dengan Jupiter. Studi sains mengenai pembentukan planet baru itu ditulis dalam Astrophysical Journal, yang menyimpulkan bahwa saat ini planet tersebut masih dalam tahap pembentukan dan ia telah mengorbit pada bintang induknya.

Apa yang berhasil diamati oleh ilmuwan tersebut merupakan peristiwa yang sangat langka. Pasalnya, kelahiran dan kematian sebuah planet memang sangat langka. Hal itu berbeda dengan kematian bintang yang diprediksi lebih banyak terjadi di alam semesta.

5. Alam semesta pun juga dapat mati

Apakah Sebuah Planet Bisa Mati? Ini 5 Ulasan Ilmiahnya

Jangankan planet, bintang, tata surya, dan galaksi, alam semesta yang mahaluas ini pun juga dapat mati suatu saat kelak. Live Science menulis bahwa ada beberapa skenario yang diprediksi oleh para ilmuwan dan astronom mengenai kematian alam semesta.

Kemungkinan pertama adalah ada banyak lubang hitam yang sangat masif yang akan menghancurkan dan mengisap objek-objek angkasa di sekitarnya. Kemungkinan kedua adalah hilangnya kekuatan fundamental alam, salah satunya gravitasi. Jika gravitasi musnah, sistem kerja alam semesta juga akan hancur.

Kemungkinan terakhir yang paling mungkin adalah kehancuran dan kehilangan total yang akan terjadi pada seluruh semesta. Jika partikel Higgs boson yang sangat kecil saja dapat melenyapkan sebuah planet, bagaimana jadinya jika suatu saat muncul Higgs boson yang superbesar di alam semesta?

Higgs boson sendiri merupakan partikel superkuat yang juga disebut God Particle atau Partikel Tuhan. Partikel hebat ini ditemukan pada 2012 lalu dan merupakan partikel yang dianggap terkuat di alam semesta.

Detail dari partikel tersebut memang sebagian besarnya masih misteri hingga kini. Yang jelas, jika ada partikel Higgs boson dalam jumlah tertentu, itu sudah cukup untuk melenyapkan alam semesta.

PELANGIQQ | QQ | POKER | CAPSA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *