Uncategorized

Setahun Pegawai Tuntut Perusahaan karena Merasa Bosan

PELANGI QQ : Sebuah perusahaan parfum Prancis diperintahkan untuk membayar 40.000 Euro, sekitar Rp640 juta, sebagai ganti rugi kepada seorang mantan karyawannya. Perusahaan itu harus membayar pesangon tersebut kepada pegawainya karena alasan yang terdengar aneh.Setahun Pegawai Tuntut Perusahaan karena Merasa Bosan

Sang mantan karyawan menuntut perusahaan karena menderita kebosanan di tempat kerja. Dia merasa tidak diberi tugas yang menarik untuk dilakukan dalam pekerjaannya.

Dilansir Staffingindustry.com, kasus yang terjadi untuk pertama kalinya di Prancis ini melibatkan karyawan dari Paris bernama Frederic Desnard.

Desnard membawa perusahaan tempatnya bekerja Interparfums, yang merupakan pembuat parfum mewah, ke pengadilan pekerja.

Pengadilan pekerja memutuskan bahwa Desnard menderita kebosanan yang merupakan kebalikan dari kelelahan yang biasa diderita seorang karyawan.

Bergaji Rp1,2 Miliar Setahun, Pegawai Tuntut Perusahaan karena Merasa Bosan
PELANGI QQ : Sebuah perusahaan parfum Prancis diperintahkan untuk membayar 40.000 Euro, sekitar Rp640 juta, sebagai ganti rugi kepada seorang mantan karyawannya. Perusahaan itu harus membayar pesangon tersebut kepada pegawainya karena alasan yang terdengar aneh.Setahun Pegawai Tuntut Perusahaan karena Merasa Bosan

Saat pertama kali mengajukan kasusnya, Desnard menyatakan pekerjaan di Interparfums telah mengubahnya menjadi ‘zombie profesional’. Padahal, Desnard digaji 80.000 Euro (Rp1,2 miliar) per tahun.

Desnard mengatakan bahwa dia diminta untuk tidak melakukan apa pun selain tugas-tugas kasar selama empat tahun. Dia menggambarkan pengalamannya itu sebagai ‘masuk neraka’.

Dia mengklaim pekerjaannya penuh dengan tugas-tugas kasar seperti menyiapkan tablet baru buat CEO, dan mengantar tukang ledeng masuk ke rumah bosnya.

Menurut laman Le Monde, Desnard pernah mengalami serangan epilepsi pada tahun 2014 saat mengendarai mobilnya. Desnard menganggap kecelakaan disebabkan oleh kondisi pekerjaannya yang membosankan.

Dalam pengadilan banding, Interparfums membela diri dengan mengatakan bahwa selama empat tahun bekerja, Desnard tidak pernah menyinggung tentang kebosanannya.

Pekan lalu, laman France Info melaporkan bahwa Pengadilan Banding Paris memutuskan bahwa membuat orang bosan merupakan bentuk pelecehan moral.

Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berimbas pada profesi tukang ojek. Jarangnya masyarakat yang beraktivitas di luar rumah membuat mereka tak dapat penumpang. Apalagi, kini ojek juga dilarang mengangkut penumpang.

Seperti kisah Mulyadi, tukang ojek yang biasa mangkal di Jalan Sudirman, Dukuh Atas, Jakarta. Kini penghasilan pria 58 tahun tersebut macet. Padahal, kebutuhan keluarganya harus tetap terpenuhi.

Para driver ojek online mungkin masih bisa mendapat penghasilan lewat order makanan atau jasa antar. Masih bisa dilakukan melalui aplikasi. Tapi sayang, Mulyadi bukan sopir ojek online. Dia abang ojek pangkalan. Kerjanya konvensional, tanpa aplikasi.

Akun Instagram @siskiarm, mengunggah kisah Mulyadi. Dalam unggahan itu terlihat perjuangan Mulyadi bekerja di tengah pandemi. Dia memasang tulisan ” tarif terserah penumpang” di depan motor.

Mulyadi memasang tulisan itu akibat tak ada satupun penumpang yang mau naik ojek konvensionalnya. Sehingga, Mulyadi pun rela dibayar seikhlasnya.

Dari video yang diunggah @siskiarm, Mulyadi duduk termenung di trotoar di depan sebuah perusahaan swasta sekitar Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Dia menunggu penumpang lewat.

Dia menawarkan tumpangan ke setiap orang yang lewat di depannya dan biasa menunggu penumpang dari pagi sampai jam pulang kantor.

” Beliau nyari penumpang yang lewat berharap ada penumpang yg naik ojeknya, beliau nongkrong dari pagi sampe sore. Diusia beliau yang sudah tua masih mau bekerja dengan narik ojek, apalagi diberlakukannya PSBB , jarang orang naik ojek,” tulis Siskia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *